Sabtu, 27 April 2013

Morfologi Bakteri dan Teknik Pengecetan


MORFOLOGI BAKTERI DAN TEKNIK PENGECATAN GRAM

A.  Tujuan Praktikum
1.   Mengenal morfologi sel dan morfologi koloni bakteri
2.   Menentukan bakteri uji termasuk gram positif atau gram negative

B.  Latar Belakang
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari makhluk-makhluk hidup yang kecil, yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop (mikros = kecil, bios = hidup, logos = ilmu). Makhluk hidup yang kecil ini disebut mikroba atau mikro-organisme.
Bakteri dari kata latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok raksasa dari organisme hidup. Mereka sangatlah kecil ( mikroskopik) dan kebanyakan uniseluer (bersel tunggal), dengan struktur sel yang reltif sederhana tanpa nucleus/inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Struktur el mereka dijelskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota, karena bakteri merupakan prokarita, untuk membedakan mereka dengan organisme yang memiliki sel lebih kmpleks, disebut eukariota. Istilah “bakteri” telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk kelompok besar mereka, tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.
Bakteri adalah yang paling berkelimpahan dari semua organisme. Mereka tersebar ( berada di mana-mana) di tanah, air, dan sebagai simbiosis dari organism lain. Banyak pathogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil, biasanya hanya berukuran 0,5-µm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3mm dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dindning sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan komposisi snagat berbeda (peptidoglikan). Banyak yang bergerak menggunakan flagella, yang berbeda dalam strukturnya dari flagella kelompok lain.
Bakteri pertama ditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada tahun 1674 dengan menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacteriumi diperkenalkan dikemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kota Yunani βακτηριον yang memiliki arti “small stick”.
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo, 2008).
Morfologi bakteri dapat diamati dengan cara membuat preparat mikroskopik dan untuk tujuan tertentu, preparat mikroskop harus diwarnai.Preparat mikroskop ad dua macam yaitu preparat basah dan preparat kering.Beberapa cara pewarnaan atau pengecetan yang perlu diketahui dalam mengamati morfologi teruyama bakteri adalah pewarnan sederhana, pewarnaan gram, pewarnaan acid fast atu pewarnaan negative.Sebelum melakukan pewarnaan dilakukan pembuatan olesan dan fiksasi pada bakteri yang akan diamati.Olesan adalah pemberian bakteri pada kaca benda sedangkan fiksasi adlah perlakuan pada bakteri.Bakteri tersebut dimatikn sedemikian rupa,tetapi selnya mati tanpa terjadi perubahan bentuk sel dan struktur yang berbeda dalam sel, dan memudakan menempel, pada kaca benda.
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah ”pewarna sederhana” dapat diartikan dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja (Gupte, 1990). Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 1994).
C.  Tinjauan Pustaka
Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Dengan metode ini, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri gram positif dan gram negatif yang didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pengecatan gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp. (Dwijoseputro, 2003).    
Pewarnaan Gram termasuk pewarnaan diferensial karena dapat di gunakan untuk membedakan Gram negative dan Gram positif. Pewarnaan ini sering di gunakan dalam klasifikasi dan identifikasi bakteri. Komposisi dinding sel bakteri Gram positif berbeda dengan Gram negative sehingga reaksi pewarnaan Gram berbeda. Perwarnaan Gram menggunakan Gram A (cat Kristal violet), Gram B (Lyugol iodine), Gram C (etanol : aseton = 1:1), Gram D (cat safranin). Hasil reaksi pewarnaan Gram , bakteri Gram positif berwarna violet dan bakteri Gram negative berwarna merah.
Gram-positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu proses pewarnaan Gram sehingga akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop. Bakteri gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu proses pewarnaan Gram sehingga akan berwarna merah bila diamati dengan mikroskop. Dinding sel bakteri Gram negatif mempunyai susunan kimia yang lebih rumit dari pada bakteri Gram positif. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri.
Bakteri yang digolongkan dalam jenis bakteri gram negatif memiliki lapisan membran yang selapis saja, sedangkan bakteri gram positif memiliki membran yang agak tebal sehingga dapat hidup pada keadaan lingkungan yang ekstrim, seperti pH yang rendah, suhu tinggi dan lain sebagainya Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel.
Bakteri gram negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram negatif tidak. Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarnaan penimbang (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu yang membuat semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.
Banyak spesies bakteri gram negatif yang bersifat patogen,yang berarti mereka berbahaya bagi organisme inang. Sifat potogen ini berkaitan dengan komponen tertentu pada dinding sel gram negatif, terutama lapisan lipopolisakarida (dikenal juga dengan LPS atau Endotoksin).
Tujuan pewarnaan yaitu :
·   Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi, ataupu fungi.
·   Memperjelas ukuran dan bentuk jasad.
·   Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan juga struktur dalam jasad.
·   Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang di berikan sehingga sifat-sifat fisik  dan kimia yang ada akan dapat di ketahui.
D.   Metode (Cara Kerja)
1.    Mengenal morfologi bakteri
Tempatkan preparat awetan pada meja benda mikroskop

 
 
















2.   
Bersihkan gelas benda penutup dengan alkohol. Beri label pada ujung gelas benda dengan nama mikrobia yang akan di cat. Di bawah gelas benda digambar bulatan berdiameter 1 cm denga spidol, gunakan daerah ini untuk pengecatan bakteri. Balikkan gelas benda sehingga gambar bulatan ada disebaliknya
 
Teknik pengecetan gram

 
 





























E.    Hasil dan Pembahasan

NO
Nama Isolat
Gambar
Foam
Elevasi
Margin
1
Isolat A
Isolat B
Isolat C
Isolat D
Foto0099.jpg
Filamentous
Irregular
Filamentous
Filamentous
     -
Raised
     -
Raised
Undulate
Entire
Filamentous
Filamentous
2
Isolat E
Isolat F
Foto0093.jpg
Round
Ireguler
Raised
Raised
Entire
Lobate
3
Isolat G
Isolat H
Isolat I
Foto-0129.jpg

Circular
Rhizoid


Convet
Lobate

Entire
Lobate
4
Isolat J
Foto-0128.jpg
Circular
Raised
Entire

Pertumbuhan bakteri membentuk kelompok yang terdiri dari satu jenis bakteri yang disebut koloni, dengan kata lain dalam satu koloni adalah bakteri yang sama genus dan spesiesnya memiliki karakteristik gen dan fenotip yang sama. Pembiakan bakteri yang terdiri dari satu macam koloni yang seragam disebut dengan pembiakan murni. Pembiakan yang murni diperlukan untuk identifikasi bakteri, untuk memudahkan pengambilan koloni yang sama ketika ditanam pada media identifikasi. Untuk melakukan hal ini, harus di mengerti jenis-jenis nutrien yang disyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya.
Tidak ada satu perangkat kondisi yang memuaskan bagi kultifasi semua bakteri dilaboratorium. Bakteri amat beragam baik dalam persyaratan nutrisi maupun fisiknya, beberapa bakteri mempunyai persyaratan yang rumit. Beberapa spesies tumbuh pada suhu serendah 0 oC, sedangkan yang lain tumbuh pada suhu sampai 75 oC. Beberapa membutuhkan oksigen bebas, sedangkan yang lain dihambat oleh eksigen. Karena alasan ini maka kondisi harus disesuaikan dengan sedemikian sehingga menguntungkan bagi kelompok bakteri tertentu yang sedang di telaah.
Pengamatan bentuk dan ukuran sel bakteri akan tampak jelas jika dilakukan pewarnaan terhadap sel. Kebanyakan sel-sel bakteri tidak berwarna, sehingga jika di lihat di bawah mikroskop tidak memperlihatkan warna kontras. Demikian pula bagian-bagian tertentu misalnya spora, flagella, kapsul atau dinding sel hanya dapat diamati jika dilakukan pengecatan atau pewarnaan khusus. Dengan pewarnaan ini, bakteri mula-mula dilapisi dengan larutan zat warna karbol gentinviolet (karbol kristal violet, karbolmetil violet) dan didiamkan beberapa lama, kemudian disiram dengan larutan yodium dan dibiarkan terendam dalam waktu yang sama. Sampai tingkat pewarnaan ini selesai, semua bakteri akan berwarna ungu.
Langkah-langkah utama dalam teknik pewarnaan antara lain:
a.  Pembuatan olesan bakteri, olesan bakteri tidak boleh terlalu tebal atau tipis.
b.  Fiksasi, dapat dilakukan secara pemanasan atau dengan aplikasi bahan kimia seperti sabun, formalin, fenol.
c.  Aplikasi zat warna tunggal, atau lebih dari 1 zat warna. Pewarnaan gram pada praktikum ini dilakukan dalam 4 tahap yaitu:
1. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu.
2. Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ.
3. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam.
4. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin.
Bakteri koliform adalah kelompok mikro organisme yang ditemukan di Lingkungan, di usus manusia dan hewan dan bahkan dalam kotoran dari organisme berdarah panas. Mereka diyakini tidak berbahaya untuk tubuh manusia tetapi keberadaan mereka di air sumur sinyal bahwa air mungkin mengandung bakteri berbahaya lainnya seperti patogen yang dapat menginfeksi kita dengan infeksi yang berbahaya. Asumsi ini datang untuk menjadi seperti diyakini bahwa bakteri colifom akan ditemukan di dalam air hanya saat air baru-baru ini telah terkontaminasi dengan kotoran. Sebagian besar waktu,patogen ini tidak mudah terdeteksi dalam air ini dan indikasi hanya menunjukkan kita bahwa mereka yang hadir adalah dengan melihat bakteri coliform dalam air ini. Bakteri koliform terdiri dari bakteri total, E. coli bakteri dan bakteri fecal. Bakteri Total terutama ditemukan di dalam tanah. Setiap kali jenis bakteri adalah satu-satunya jenis Bakteri coliform pada air sumur, maka sumber kontaminasi dapat dikatakan dari lingkungan misalnya dari vegetasi di dekatnya. Oleh karena itu, ini berarti jika ada patogen hadir di dalam air, mereka mungkin akan datang dari daerah lingkungan yang sama. Bakteri E.coli sebagian besar ditemukan di dalam usus dan tinja. Hal ini disebut sebagai berbahaya bagi manusia tetapi penelitian mengatakan bahwa, pada waktu bakteri dapat membawa strain yang berbahaya disebut sebagai E. coli 0157: H7 ketegangan dengan itu. Strain bertanggung jawab untuk wabah diare dan jika kasus ini tidak diobati dalam jangka waktu tertentu, tetesan darah mungkin mulai untuk menemani diare.
Para kotoran bakteri seperti E. bakteri coli sebagian besar terletak di usus dan kotoran organisme berdarah panas. Kehadiran bakteri coliform dalam air dengan baik merupakan tanda pasti bahwa air telah terkontaminasi dengan kotoran dan memakan sebelum pengobatan mungkin menyebabkan Anda memiliki waktu yang sulit pemakaian limbah. Bakteri membawa serta patogen yang sebagian besar kantong cairan dari kotoran manusia dan karena itu tinja akan menjadi ditolak kemampuan untuk mengalir dengan lancar keluar dari kondisi body.A dikenal sebagai sembelit.
Macam-Macam Pengecatan
Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan sebagai berikut :
1.    Pengecatan sederhana
Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Pengecatan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif).
Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut. Pengecatan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri secara umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru metilen (30-60 detik), ungu kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik).
http://aguskrisnoblog.files.wordpress.com/2011/01/bakteri-gram-negatif.jpg?w=570
gambar pewarnaan sederhana
2.   Pewarnaan differensial dibagi pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam
Pengecatan differensial
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Penjelasan sebagai berikut:
Pengecatan Gram
Pengecatan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae.
Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari genus Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia. Bakteribakteri dari kedua genus ini diketahui memiliki sejumlah besar zat lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya sehingga menyebabkan dinding sel tersebut relatif tidak permeabel terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode pewarnaan biasa, seperti pewarnaan sederhana atau Gram.Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :

  • Zat warna utama (violet kristal)
  • Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama.
  • Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.
  • Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.
Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu
1. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu.
2. Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ.
3. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam.
4. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin
Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel  dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negative lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3 nm).
Sifat bakteri terhadap pewarnaan Gram merupakan sifat penting untuk membantu determinasi suatu bakteri. Beberapa perbedaan sifat yang dapat dijumpai antara bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif yaitu:
       Ciri-ciri bakteri gram negatif yaitu:
·       Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10 – 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.
·       Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan terdapat didalam
·       lapisan kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit ± 10% dari berat kering, tidak mengandung asam tekoat.
·       Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.
·       Pertumbuhannya tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal violet.
·       Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.
·       Tidak resisten terhadap gangguan fisik.
·       Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat
·       Peka terhadap streptomisin
·       Toksin yang dibentuk Endotoksin
     Ciri-ciri bakteri gram positif yaitu:
  • Struktur dinding selnya tebal, sekitar 15-80 nm, berlapis tunggal atau monolayer.
  • Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%), peptidoglikan ada yang sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat ringan. Mengandung asam tekoat.
  • Bersifat lebih rentan terhadap penisilin.
  • Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal.
  • Komposisi nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.
  • Lebih resisten terhadap gangguan fisik.
  • Resistensi terhadap alkali (1% KOH) larut
  • Tidak peka terhadap streptomisin
  • Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
     Contoh bakteri gram posittif                                            contoh bakteri gram negatif

  http://aguskrisnoblog.files.wordpress.com/2011/01/gram-positive_bacteria.jpg?w=570
http://aguskrisnoblog.files.wordpress.com/2011/01/images.jpeg?w=570

Pewarnaan Tahan Asam
Pewarnaan ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA).
Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis . Ada beberapa cara pewarnaan tahan asam, namun yang paling banyak adalah cara menurut Ziehl-Neelsen.(anonymous,2009)

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pewarnaan mikrobia antara lain adalah fiksasi, peluntur warna, subtrat, intensifikasi pewarna untuk mempercepat pewarnaan mikrobia sehingga zat akan terikat lebih mudah di dalam jaringan. Zat warna penutup untuk memberikan warna kontras pada sel mikrobia, yang diwarnai yang tidak menyerap warna pula (Soetrarto, 1995).
Reaksi yang terjadi ketika penambahan alkohol 96%
gram + : lipid << + alkohol 96%  pori dinding sel yang terbentuk kecil, protein dinding sel terdehidrasi, pori tertutup (kompleks kristal violet-iodine tidak tercuci)
gram - : lipid >> + alkohol 96%        pori dinding sel yang terbentuk besar, protein dinding sel terdehidrasi, pori tidak tertutup (kompleks kristal violet-iodine tercuci)
Alkohol 96% yang diteteskan di atas gelas benda didiamkan selama 30 detik kemudia dibilas dengan aquades dengan tujuan agar warna dapat luntur secara sempurna dan tidak ada yang tersisa di dalam gelas benda.
Setelah pembilasan reagen alkohol 96% pada gelas benda sebelumnya, selanjutnya diteteskan 1 tetes safranin di atas gelas benda tersebut kemudian didiamkan selama 1 menit. Setelah itu, gelas benda dibilas dengan aquades hingga warnanya hilang. Safranin merupakan pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan dengan alkohol. Dengan kata lain, safranin memberikan warna pada mikroorganisme non target serta menghabiskan sisa-sisa cat atau pewarna. Pewarnaan safranin masuk ke dalam sel dan menyebabkan sel menjadi berwarna merah pada bakteri gram negatif sedangkan pada bakteri gram positif dinding selnya terdehidrasi dengan perlakuan alkohol, pori – pori mengkerut, daya rembes dinding sel dan membran menurun sehingga pewarna safranin tidak dapat masuk sehingga sel berwarna ungu.

F.     Kesimpulan
Percobaan kali ini didapatkan kesimpulan sebgai berikut:
1. Metode isolasi yang digunakan adalah streak plate dan pour plate memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menentukan jumlah bakteri.
2.  Metode pour plate lebih banyak terdapat koloni bakteri dari pada metode strake plate.
3.Bakteri dapat dibedakan melalui teknik pewarnaan gram. Teknik pewarnaantersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu. Bakteri gram negatif ditandai dengan pewarnaan merah, sedangkan yang positif berwarna ungu.
4. Sel-sel bakteri secara khas berbentuk kokus, basil, dan spiral. Kokus adalahbakteri yang serupa bola- bola kecil. Kokus yang bergandeng dua disebut diplokokus, yang mengelompok berempat disebut tetrakokus. Basil adalah bakteri panjang berbentuk batang, yang bergandengan panjang disebut streptobasil dan yang bergandeng dua disebut diplobasil. Spiral adalah baktreri yang bengkok yang menyerupai spiral

G.    Daftar Pustaka  
Dwijoseputro, d. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Entjang Indan, 2003. Mikrobiologi & Parasitologi. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung
Pelczar. J. Michael dan Chan E.C.S. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia : Jakarta.
Soetarto. 1995. Bakteri dan Virus. Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro. 1986. Mikrobiologi untuk Universitas. Ganesha Expect. Bandung.
Hiskis, ahmad. 1982. Kimia Larutan. Departemen kimia Fakultas MIPA ITB . Bandung